Oleh: Laksda TNI (Purn.) Dr. Soleman B. Ponto, S.T., S.H., M.H.
PortalMiliter.com | Opini,-Dalam setiap pembicaraan mengenai pengadaan alat utama
sistem senjata atau alutsista, kita sering mendengar satu kalimat yang
terdengar sangat meyakinkan: “Senjata ini sudah battle proven.” Artinya,
senjata tersebut telah digunakan dalam pertempuran dan terbukti mampu
menjalankan tugasnya. Pesawatnya pernah menembak jatuh pesawat lawan. Rudalnya
pernah menghancurkan sasaran. Kapalnya pernah menjalankan operasi tempur.
Drone-nya terbukti mampu menyerang sasaran. Sistem pertahanan udaranya pernah
mencegat serangan musuh. Lalu muncul kesimpulan sederhana: karena sudah
terbukti dalam perang, maka alutsista tersebut merupakan pilihan yang baik
untuk Indonesia. Apakah logikanya sesederhana itu? Tidak. Kehebatan sebuah
sistem persenjataan dalam suatu pertempuran memang merupakan informasi yang
sangat berharga. Namun, keberhasilan tersebut tidak boleh secara otomatis
dijadikan patokan utama dalam menentukan alutsista yang harus dimiliki
Indonesia. Sebab senjata tidak pernah berperang sendirian.
Tidak.
Kehebatan sebuah sistem persenjataan dalam suatu pertempuran
memang merupakan informasi yang sangat berharga. Namun, keberhasilan tersebut
tidak boleh secara otomatis dijadikan patokan utama dalam menentukan alutsista
yang harus dimiliki Indonesia. Sebab senjata tidak pernah berperang sendirian.
Yang Menang Bukan Senjatanya Ketika suatu alutsista menunjukkan keberhasilan
dalam perang, kita harus bertanya lebih jauh: apa sebenarnya yang membuatnya
berhasil? Apakah semata-mata karena kecanggihan senjatanya? Ataukah karena
senjata tersebut menjadi bagian dari suatu sistem tempur yang jauh lebih besar?
Sebuah pesawat tempur modern, misalnya, mungkin terlihat sangat hebat ketika
berhasil menghancurkan sasaran dari jarak jauh. Tetapi pesawat tersebut mungkin
bekerja dengan dukungan satelit, pesawat peringatan dini, tanker udara,
peperangan elektronik, data-link, intelijen real-time, pangkalan udara yang
aman, jaringan komunikasi yang kuat, serta sistem komando dan kendali yang
terintegrasi. Kalau pesawat yang sama dibeli, tetapi seluruh ekosistem
pendukungnya tidak tersedia, apakah kemampuan tempurnya akan tetap sama? Belum
tentu. Demikian pula sebuah kapal perang. Sebuah kapal dapat terlihat sangat
perkasa ketika beroperasi dalam suatu gugus tempur. Namun di sekelilingnya
mungkin 1terdapat kapal perusak, frigat, kapal selam, pesawat patroli maritim,
pesawat tempur, satelit, drone, serta sistem logistik yang terus menjamin
keberlangsungan operasinya.
Artinya, keberhasilan yang kita lihat sebenarnya bukan hanya
keberhasilan sebuah platform. Itu adalah keberhasilan sebuah sistem perang.
Battle Proven Harus Dibaca dengan Hati-Hati Istilah battle proven sebenarnya
hanya menjawab satu pertanyaan: Apakah sistem persenjataan tersebut pernah
berhasil digunakan dalam kondisi pertempuran tertentu? Jawabannya mungkin: ya.
Tetapi keputusan pengadaan alutsista Indonesia membutuhkan pertanyaan kedua
yang jauh lebih penting: Apakah sistem itu akan efektif dalam kondisi perang
Indonesia? Dua pertanyaan tersebut tidak sama. Alutsista yang sangat efektif di
gurun belum tentu memberikan efektivitas yang sama di negara kepulauan.
Alutsista yang dirancang untuk menghadapi perang di laut terbuka belum tentu
menjadi pilihan paling efisien untuk peperangan di antara ribuan pulau dan
selat sempit. Alutsista yang efektif ketika dilindungi oleh jaringan satelit
dan armada pendukung yang sangat besar belum tentu mempunyai efektivitas serupa
ketika berdiri dalam struktur kekuatan yang berbeda. Karena itu, pengalaman
tempur negara lain harus diperlakukan sebagai data empiris, bukan sebagai resep
yang harus ditiru. Kita Harus Bertanya: Perang Siapa? Setiap kali seseorang
mengatakan suatu alutsista hebat karena telah memenangkan pertempuran,
pertanyaan berikutnya seharusnya sederhana: Pertempuran siapa? Di mana
pertempuran itu berlangsung? Siapa lawannya? Bagaimana kekuatan lawannya? Siapa
yang menguasai udara? Siapa yang menguasai informasi? Bagaimana dukungan
logistiknya? Bagaimana kondisi geografisnya? Apakah lawan mempunyai kemampuan
peperangan elektronik? Apakah sistem tersebut tetap efektif ketika komunikasi
satelit terganggu? Apakah ia tetap mampu bertempur ketika pangkalan utamanya
diserang? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang menentukan apakah
pengalaman perang tersebut relevan bagi Indonesia. Sebab kita tidak sedang
mempersiapkan diri untuk mengulangi perang negara lain. Kita mempersiapkan diri
menghadapi perang kita sendiri.
Geografi Indonesia Adalah Sistem Pertahanan Itu Sendiri
Indonesia bukan negara kontinental. Indonesia juga bukan
negara dengan satu kawasan laut terbuka yang luas tanpa hambatan geografis.
Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri atas ribuan pulau, dengan selat,
teluk, laut sempit, laut dalam, choke point, serta jalur pelayaran strategis
yang tersebar. Karakter geografis seperti ini seharusnya mempunyai pengaruh
langsung terhadap doktrin pertahanan dan pemilihan alutsista. Selat sempit
dapat menjadi ruang tempur. Pulau dapat menjadi pangkalan. Pantai dapat menjadi
lokasi sensor dan rudal. Laut dalam dapat menjadi ruang operasi kapal selam.
Pulau-pulau kecil dapat menjadi bagian dari jaringan pengawasan. Drone dapat
memperluas mata dan telinga kekuatan pertahanan. Kapal cepat dapat berpindah di
antara pulau dan memanfaatkan kompleksitas geografis. Dengan demikian,
Indonesia sesungguhnya memiliki sesuatu yang tidak dapat dibeli dari negara
mana pun: geografi. Pertanyaannya adalah apakah kita membangun sistem
pertahanan yang memanfaatkan geografi tersebut atau justru mengadopsi konsep
perang negara lain.
Platform Besar Tidak Selalu Berarti Kekuatan Besar Ada
kecenderungan untuk menghubungkan ukuran dengan kekuatan. Kapal semakin besar
dianggap semakin kuat. Pesawat semakin canggih dianggap semakin unggul. Rudal
semakin jauh jangkauannya dianggap semakin baik. Padahal dalam perang, ukuran
sebenarnya adalah: seberapa besar kemampuan tempur yang dapat dipertahankan
setelah musuh mulai menembak. Satu platform besar mungkin membawa kemampuan
tempur yang luar biasa. Tetapi platform besar juga berarti konsentrasi kemampuan.
Ketika terlalu banyak kemampuan ditempatkan dalam satu platform, platform
tersebut menjadi aset yang sangat penting sekaligus sasaran yang sangat
bernilai bagi lawan. Di sinilah muncul persoalan antara concentration of force
dan distribution of force. Kekuatan yang terkonsentrasi dapat menghasilkan daya
tempur yang sangat besar. Tetapi kekuatan yang terdistribusi mempunyai
keuntungan lain: sulit dihancurkan sekaligus. Bayangkan dua pilihan. Pilihan
pertama adalah satu platform yang sangat besar dan sangat mahal. Pilihan kedua
adalah kemampuan yang sama-sama berbahaya tetapi disebarkan melalui berbagai
kapal kecil, kapal selam, pesawat, drone, rudal berbasis darat, sensor pantai
dan pulau-pulau. Ketika satu unsur pada sistem kedua dihancurkan, sistem secara
keseluruhan masih dapat bertempur. Inilah redundansi tempur.
Dalam perang modern, kemampuan untuk tetap bertempur setelah
menerima serangan pertama bisa lebih penting daripada kemegahan sebuah
platform. Jangan Lupa Harga untuk Membuat Senjata Itu Bertempur Harga pembelian
hanyalah awal. Setelah suatu alutsista dibeli, masih ada bahan bakar, amunisi,
suku cadang, perawatan, overhaul, pelatihan awak, infrastruktur pangkalan,
sistem sensor, jaringan komunikasi, dan sistem pendukung lainnya. Karena itu
pertanyaan yang tepat bukan hanya: “Berapa harga alutsista ini?” Tetapi:
“Berapa biaya agar alutsista ini dapat terus bertempur?” Lebih penting lagi:
“Berapa lama kita mampu mempertahankannya dalam perang?” Sebab perang tidak
dimenangkan dalam pameran alutsista. Perang dimenangkan oleh kekuatan yang
masih mampu bertempur pada hari kedua, hari ketujuh, hari ketiga puluh, bahkan
ketika rantai pasok mulai terganggu. Battle Proven Bukan Indonesia Proven Kita
harus membedakan dua istilah. Battle proven berarti telah terbukti dalam suatu
pertempuran. Tetapi Indonesia membutuhkan sesuatu yang dapat disebut: Indonesia
proven. Artinya, sistem tersebut harus dapat menjawab kondisi strategis
Indonesia. Apakah cocok dengan geografi kepulauan? Apakah dapat dipelihara oleh
kemampuan nasional? Apakah dapat beroperasi dari pangkalan yang kita miliki?
Apakah pasokan amunisinya dapat dijamin ketika perang berlangsung? Apakah
industri pertahanan nasional dapat mengambil bagian dalam pemeliharaan dan
produksinya? Apakah jumlahnya cukup untuk menjaga wilayah yang sangat luas?
Apakah sistem itu tetap efektif apabila jaringan komunikasi terganggu? Apakah
kehilangan satu unit akan langsung mengurangi kemampuan tempur secara drastis?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar bertanya
apakah senjata itu pernah digunakan dalam perang.
Alutsista Harus Mengikuti Doktrin Kesalahan terbesar dapat
terjadi apabila proses berpikir dibalik. Kita membeli suatu alutsista terlebih
dahulu, kemudian mencari alasan strategis untuk membenarkan keberadaannya.
Seharusnya tidak demikian. Urutannya harus jelas: Ancaman → Geografi → Doktrin
→ Konsep Operasi → Struktur Kekuatan → Alutsista. Bukan: Alutsista → kemudian
mencari doktrin untuk menggunakannya.
Doktrin menentukan bagaimana kita akan bertempur. Konsep
operasi menentukan bagaimana doktrin dilaksanakan. Barulah dari sana ditentukan
jenis alutsista yang diperlukan. Dengan cara berpikir tersebut, pertanyaan
pertama bukan: “Senjata apa yang paling hebat?” Pertanyaan pertama adalah:
“Bagaimana Indonesia akan berperang apabila perang benar-benar terjadi?” Jangan
Membeli Kemenangan Orang Lain Sejarah perang penuh dengan contoh bagaimana
suatu senjata yang dianggap luar biasa pada suatu masa akhirnya kehilangan
keunggulannya ketika teknologi, taktik, atau kondisi medan berubah. Karena itu
kita tidak boleh terpesona hanya oleh keberhasilan sebuah sistem senjata dalam
perang yang dilakukan negara lain. Kita boleh belajar dari mereka. Kita bahkan
harus mempelajari mereka. Tetapi belajar tidak sama dengan meniru. Pengalaman
perang negara lain harus digunakan untuk memahami bagaimana teknologi bekerja,
bagaimana taktik berkembang, bagaimana kelemahan muncul, dan bagaimana lawan
melakukan adaptasi. Setelah itu semuanya harus diuji kembali terhadap
kepentingan Indonesia. Sebab pada akhirnya kita tidak membeli alutsista untuk
memenangkan perang yang sudah terjadi. Kita membeli alutsista untuk menghadapi
perang yang mungkin terjadi pada masa depan. Dan perang itu akan berlangsung di
geografi kita, dengan sumber daya kita, dengan kemampuan logistik kita, dengan
doktrin kita, dan dengan kepentingan nasional kita sendiri.
“Jangan membeli kemenangan orang lain. Bangun kemampuan
untuk memenangkan perang kita sendiri.” Pada akhirnya, mungkin istilah battle
proven pun perlu kita lihat dengan cara yang berbeda. Yang paling penting bukan
sekadar apakah sebuah alutsista pernah terbukti dalam perang. Yang jauh lebih
penting adalah apakah konsep perang kita sendiri telah diuji secara
sungguh-sungguh terhadap ancaman, geografi, teknologi, logistik, dan kemampuan
nasional. Sebab yang harus battle proven bukan hanya alutsistanya, tetapi
konsep perangnya. Alutsista mengikuti doktrin. Bukan doktrin yang dipaksa
mengikuti alutsista.

