PortalMiliter.com | Opini.- Ada satu fenomena sosial yang kerap terjadi di
tengah masyarakat namun jarang dibicarakan: melupakan orang yang pernah
membantu saat berada di titik terendah, setelah diri sendiri berhasil dan
berada di atas.
Kalimat sederhana "Dibantu pas susah, dilupain pas
sudah berhasil" mungkin terdengar menyakitkan. Namun faktanya, banyak
orang yang mengalaminya. Tidak sedikit yang pernah mengulurkan tangan, waktu,
tenaga, bahkan materi untuk menolong orang lain. Tapi giliran orang itu bangkit
dan sukses, jasa-jasa itu seolah hilang ditelan waktu.
Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi sikap "lupa
diri" ini. Pertama, lupa karena silau dengan nikmat. Ketika hidup sudah
mapan, seseorang cenderung fokus pada kesibukan baru dan melupakan proses
panjang yang pernah dilalui.
Kedua, lupa karena gengsi. Ada rasa malu untuk mengakui
bahwa dirinya pernah dibantu. Lebih memilih tampil seolah-olah sukses karena
usaha sendiri.
Ketiga, lupa karena memang niatnya hanya memanfaatkan.
Hubungan dibangun atas dasar kepentingan. Ketika kepentingan selesai, hubungan
pun selesai.
Padahal, dalam nilai budaya dan agama, menghargai jasa orang
lain adalah bentuk dasar dari rasa syukur dan adab. Orang bijak selalu ingat 3
hal: dari mana ia berasal, siapa yang menolong saat ia jatuh, dan ke mana ia
hendak melangkah.
"Tangan yang menolongmu saat kamu tidak punya apa-apa,
adalah tangan yang paling tulus. Jangan pernah melupakannya saat kamu sudah
punya segalanya," begitu pesan yang sering digaungkan para tetua.
Fenomena ini menjadi pengingat bagi kita semua. Kesuksesan
memang milik pribadi, tapi prosesnya tidak pernah berjalan sendiri. Selalu ada
orang-orang di belakang yang ikut mendorong, mendoakan, dan membantu.
Mari biasakan untuk tidak melupakan. Karena orang yang
pandai bersyukur, hidupnya akan terus ditambah. Sebaliknya, melupakan kebaikan
orang lain sama saja menutup pintu rezeki dan keberkahan.
"Menolonglah tanpa pamrih. Tapi jangan pernah jadi
orang yang melupakan kebaikan"

