PortalMiliter.Com | Sukabumi,- Setiap Jumat, di sebuah sekretariat sederhana, puluhan anak yatim piatu datang. Mereka tidak butuh panggung megah, tidak butuh karpet merah. Yang mereka bawa hanya rapor, senyum malu, dan doa. Yang mereka harapkan hanya santunan, alat tulis, dan pelukan tulus.
Itulah kegiatan “Jumat Berkah” yang konsisten berjalan. Murni dari donasi masyarakat. Tanpa embel-embel, tanpa protokoler.
Ironisnya, di saat yang sama kita sering melihat sebaliknya. Acara seremonial digelar megah. Anggaran terserap cepat untuk panggung, konsumsi, dan dokumentasi. Pidato tentang “rakyat” menggema di pengeras suara. Tapi suara tangis anak yatim yang duduk di pojok gang, jarang sampai ke meja rapat.
Inilah kemunafikan yang paling menyakitkan: fasih bicara “untuk rakyat”, tapi buta melihat keadaan rakyat yang sebenarnya.
Kemunafikan bukan hanya soal dusta. Tapi juga saat simbol dipuja melebihi substansi. Saat gunting pita lebih penting dari mengurai kemiskinan. Saat foto bersama lebih dikejar daripada menghapus air mata.
“Sukabumi Mubarokah dimulai dari menghapus air mata anak yatim. Bukan dari meriahnya seremonial. Rakyat butuh kerja nyata, bukan hanya kata-kata indah,” tegas Ketua IWOI DPD Kab. Sukabumi, Heriyadi.
Di awal tahun Hijriah 1 Muharram 1448 H ini, mari kita buka lembaran baru. Mari uji kepemimpinan bukan dari banyaknya spanduk, tapi dari banyaknya yatim yang tersenyum. Bukan dari meriahnya acara, tapi dari tulusnya kepedulian.
Karena setelah kita wafat, panggung akan dibongkar. Karangan bunga akan layu. Tapi amal untuk anak yatim, pahalanya tetap mengalir.
( RED )

