PortalMiliter.com | sukabumi,- Arus
modernisasi dan dominasi teknologi digital kian mengikis penggunaan bahasa dan
budaya Sunda di kalangan generasi muda Kabupaten Sukabumi.
Merespons fenomena krusial ini, Ikatan Wartawan Online (IWO)
Indonesia DPD Kabupaten Sukabumi mendesak Dinas Pendidikan setempat untuk
segera mereformasi metode pengajaran Muatan Lokal (Mulok) melalui pelatihan
digitalisasi guru secara masif dan terstruktur.
Ketua IWO Indonesia DPD Kabupaten Sukabumi, Heriyadi,
menegaskan kurikulum Mulok saat ini tidak akan efektif jika metode
pembelajarannya masih konvensional dan hanya mengandalkan buku teks atau LKS
yang monoton.
"Pelajaran bahasa daerah harus bertransformasi
mengikuti tren teknologi komunikasi yang digandrungi anak muda masa kini,"
ujar Heriyadi saat konferensi pers di Sukabumi, Minggu 16 Agustus 2026.
"Infrastruktur pendidikan kita sudah semakin bagus,
akun digital Belajar.id sudah dibagikan. Tapi kalau gurunya di kelas masih
pakai metode ceramah satu arah, ya boncos anggaran kita. Budaya Sunda tidak
boleh hanya jadi pajangan buku usang. Dia harus masuk ke algoritma gadget
anak-anak muda kita," tegasnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, IWO Indonesia DPD Kabupaten
Sukabumi mendorong penerapan draf modul pelatihan praktis bernama "Digitalisasi
Nyurkem" _(Nyunda Bareng Komputer & Media Sosial)_.
Modul ini mengemas materi kebudayaan Sunda ke dalam 3
platform digital sederhana yang mudah dipelajari guru dari semua generasi:
1. Gamifikasi Kelas
Menggunakan
platform kuis interaktif Wordwall untuk
menghidupkan tradisi `tatarucingan` atau tebak-tebakan kata Sunda.
2. Micro-Vlogging
Memanfaatkan
aplikasi CapCut untuk penugasan video pendek 60 detik seperti `ngadongeng` dan
`biantara`.
3. Desain Grafis
Kontemporer
Melalui aplikasi Canva
agar aksara Sunda dapat dipraktikkan langsung dalam bentuk poster digital,
stiker, dan infografis kekinian.
Menyadari tantangan geografis Sukabumi yang luas dengan 47
kecamatan, serta adanya blank spot dan ketimpangan kompetensi guru di wilayah
pelosok seperti Sukabumi Selatan dan Jampang, IWO Indonesia dpd Kab sukabumi menyarankan
pelatihan tidak dilakukan secara terpusat.
"Disdik cukup mengeluarkan regulasi, instruksi, dan SK
resmi. Biarkan pengurus KKG di tingkat SD dan MGMP Bahasa Sunda di tingkat SMP
yang mengeksekusi pelatihan ini secara mandiri di sub-rayon," jelas
Heriyadi.
"Kami dari media online siap mengawal, mempublikasikan,
dan menjadi mitra strategis. Agar gerakan penyelamatan budaya Sunda ini menjadi
kesadaran kolektif masyarakat Sukabumi," pungkasnya.
Langkah kolaboratif ini diharapkan melahirkan guru-guru
Mulok yang mandiri secara digital. Tujuannya satu: mencetak generasi muda
Sukabumi yang Cageur, Bageur, Pinter, sekaligus tetap bangga membumikan
identitas kesundaan di panggung digital global.

