PortalMiliter.Com | Sukabumi,- Di tengah derasnya arus media
sosial, krisis karakter dan maraknya cyberbullying menjadi ancaman nyata bagi
kesehatan mental remaja Indonesia. Menjawab tantangan itu, filosofi luhur Sunda
"Cageur, Bageur, Pinter" kini digaungkan kembali bukan hanya sebagai
warisan budaya, melainkan sebagai kompas moral di dunia digital.
Pimpinan Redaksi PortalMiliter.com menyoroti bahwa generasi saat ini tumbuh
dengan gawai di tangan, namun minim pegangan etika. Komentar kebencian,
perundungan digital, dan ujaran kasar sudah menjadi hal biasa. Padahal
dampaknya bisa berujung pada depresi, kecemasan, hingga kasus bunuh diri di
kalangan pelajar.
"Di era digital, kita tidak kekurangan informasi. Yang
kita kekurangan adalah karakter. Nilai-nilai Sunda bisa jadi filter-nya,"
demikian ditegaskan dalam analisis redaksi PortalMiliter.com.
Ironisnya, nilai-nilai seperti Silih Asih, Silih Asah, Silih
Asuh yang selama ini diajarkan di sekolah, masih dianggap sekadar "slogan
di dinding" tanpa implementasi nyata.
Siswa hafal artinya: saling mengasihi, saling mencerdaskan,
saling mengasuh. Tapi di kolom komentar TikTok dan grup WA sekolah, yang muncul
justru saling menjatuhkan dan membully.
PortalMiliter.com mengajak dunia pendidikan untuk tidak
berhenti di hafalan. Filosofi Sunda harus "dihidupkan" dalam praktik
sehari-hari, termasuk di ruang digital:
1. Silih Asih -
Saling Mengasihi
Diterapkan saat
berkomentar di media sosial. Sebelum mengetik, tanya: "Apakah komentar ini
melukai?" Kampanye KomentarAsih bisa dimulai dari OSIS dan guru BK.
2. Silih Asah -
Saling Mencerdaskan
Diwujudkan lewat belajar
kelompok digital. Bukan saling mencontek, tapi saling share materi, saling
koreksi tugas, dan membuat konten edukasi bersama. Dari "saling
bully" menjadi "saling membangun".
3. Silih Asuh -
Saling Mengasuh
Guru, orang tua, dan senior sekolah berperan sebagai "pengasuh digital". Mengawasi, mengarahkan, dan menjadi contoh etika bermedsos yang baik.
"Cageur" sehat secara fisik dan mental,
"Bageur" baik budi pekerti, "Pinter" cerdas secara
intelektual. Ketiga pilar ini adalah paket lengkap untuk menangkal toksisitas
dunia maya.
Jika nilai Sunda yang sudah berabad-abad ini mampu
diadaptasi ke dalam etika digital, maka kita tidak hanya melahirkan generasi
yang pinter, tapi juga generasi yang bageur dan cageur.
"Jangan biarkan teknologi lebih maju dari adab kita.
Mari jadikan etika Sunda sebagai antivirus cyberbullying"

