PortalMiliter.Com | Sukabumi, — Dampak musim kemarau panjang mulai
memicu krisis air bersih di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Badan
Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi mencatat Kecamatan
Cibadak menjadi salah satu wilayah dengan titik kekeringan paling kritis. Ratusan
warga di sana mulai kesulitan mendapatkan pasokan air untuk kebutuhan harian. 20
Juli 2026
Kondisi terparah terjadi di Desa Cibatu, Desa Sekarwangi
termasuk Kampung Babakansari, serta Kelurahan Cibadak. Menyusutnya sumber mata
air dan mengeringnya sumur warga selama hampir satu bulan terakhir memaksa
masyarakat memanfaatkan genangan air di aliran sungai yang surut untuk mandi
dan mencuci. Air tersebut terlebih dahulu diendapkan agar kotorannya turun sebelum
digunakan.
Menanggapi situasi darurat ini, Kepala Pelaksana BPBD
Kabupaten Sukabumi, Drs. Eki Radiana Rizki, M.Si., menyatakan Pemda telah
menetapkan status kesiapsiagaan bencana kekeringan.
"Hingga pertengahan Juli 2026, kami telah menerima
laporan dan permohonan bantuan dari 4 kecamatan terdampak, yaitu Cibadak,
Cikembar, Cicurug, dan Nyalindung. Total warga terdampak mencapai 3.022 jiwa
dari 2.258 Kepala Keluarga. Kami memprioritaskan pengiriman mobil tangki ke
pemukiman padat dan wilayah yang sumurnya sudah kering total," ujar Eki.
Senada, Manajer Pusdalops BPBD Kabupaten Sukabumi, Daeng
Sutisna, menyebut distribusi air darurat terus dioptimalkan ke posko-posko di
tingkat RT/RW.
"Kondisi di lapangan cukup mengkhawatirkan karena hujan
belum turun merata. Tim Pusdalops bersama relawan telah menyalurkan lebih dari
30.000 liter air bersih menggunakan truk tangki 5.000 liter per rit. Kami
mengimbau kepala desa atau pengurus lingkungan yang wilayahnya krisis air
segera kirim surat permohonan resmi ke BPBD agar jadwal suplai bisa
dikoordinasikan," jelas Daeng.
BPBD juga terus berkoordinasi dengan BMKG untuk memantau
perkembangan cuaca. Masyarakat diimbau menggunakan air secara bijak dan
mengutamakan alokasi untuk kebutuhan esensial seperti minum dan memasak.


